Salah! Kalau menjadi karyawan untuk menjadi kaya!
Banyak orang berharap menjadi kaya dengan cara menjadi karyawan. Padahal menjadi karyawan sama saja dengan menjual keahlian atau tenaga anda kepada perusahaan. Ketika ketrampilan anda meningkat, maka “harga”nya meningkat pula, meski tidak selalu berkorelasi demikian.
Misalnya anda menjadi karyawan sebagai satpam digaji Rp 3 juta per bulan. Ini sama saja dengan anda menjual “tenaga” anda seharga Rp 100 ribu per delapan jam (asumsi tidak ada libur dalam 30 hari, semata untuk mempermudah perhitungan saja). Ini berarti bahwa selama 8 jam tadi anda hanya bisa menjual tenaga/keahlian anda seharga Rp 100 ribu saja, tidak bisa lebih. Kemudian anda akan dibayar lebih setiap over time anda. Ini berarti anda harus menghabiskan waktu anda lebih banyak lagi di kantor.
Bandingkan dengan tukang bubur ayam yang berjualan selama 4 jam saja mulai dari jam 7 pagi sampai dengan jam 11 siang. Penghasilan mereka melebihi gaji anda selama 2-3 hari sebagai satpam. Tidak heran tukang bubur ayam mempunyai sepeda motor atau handphone yang lebih bagus dibandingkan karyawan kantoran seperti teller bank, atau customer service misalnya.
Jadi, ngapain susah-susah mencari pekerjaan kalau tujuan anda menjadi kaya? Menjadi karyawan bukan cara untuk menjadi kaya, tetapi cara untuk mendapatkan pekerjaan. Dan mendapatkan pekerjaan tidaklah untuk mendapatkan uang banyak, tetapi untuk menyalurkan hobi, atau mengisi waktu luang, atau untuk sekedar mendapatkan pengakuan (aktualisasi diri). Orang yang “bekerja” pasti mempunyai banyak uang (kaya) dari bisnis yang ia jalani, bukan dari pekerjaan yang ia jalankan saat ini.
Ini hanya sebuah pemikiran saya saja, anda percaya atau tidak, tengoklah kekayaan anda saat menjadi karyawan!
Related Posts:


dengan kata lain lebih baik jadi kepala ayam dari pada ekor gajah
aziz ms recently posted..Index Google Tiba-tiba Hilang kena Google Dance
[Reply]