Memiliki produk sendiri, haruskah?
Tidak! Hitung lagi sejauh Mana Keuntungan Memiliki Produk Sendiri!
Setelah saya selingi dengan posting penipuan kemarin, sekarang saya bahas kembali mengenai Produk. Saya tertarik membahas topik ini karena dalam satu bulan ini saya masih belum mantap untuk creat satu produk baru yang 100% produk milik sendiri. Saya juga kurang tahu, tidak seperti ketika memulai bisnis Javasugar.com, tetapi untuk melahirkan produk sendiri ini kok cukup sulit mematapkan diri untuk segera launching produk.
Apakah Lebih Menguntungkan?
Beberapa kali saya menghitung-hitung keuntungan yang akan saya peroleh apabila melahirkan produk baru ini (produk sembako untuk bisnis offline). Sampai perhitungan terakhir, saya hitung per item produk baru tersebut, ternyata dapat saya simpulkan sebagai berikut :
Sebagai “produsen” sekaligus sebagai “pemasar” keuntungan per item sama dengan dengan keuntungan (laba) yang saya peroleh ketika memasarkan produk milik orang lain (produk existing yang saat ini saya pasarkan).
Berdasarkan kesimpulan ini saya kemudian melakukan analisa ulang dengan membandingkan produk-produk milik perusahaan besar seperti produk Sido Muncul, produk Mayora dan produk-produk milik perusahaan lain yang sejenis (O-ya, sebelaumnya saya sudah melakukan survey pasar). Perhitungan saya sampai sangat ekstrim dengan memposisikan diri sekaligus sebagai petani sehingga dapat memperoleh biaya produksi yang rendah. Kesimpulan saya masih tetap sama dengan di atas, lebih menguntungkan memasarkan produk existing yang notabene milik orang lain (memang perbandingan tsb tida aplle to apple karena beda produk dan beda pangsa pasarnya).
Terus Gimana Dong?
Bangun Network! Apa hubungannya dengan harga dan biaya produksi?
Analisa kedua saya menyimpulkan bahwa kekuatan network adalah kunci keberhasilan pemasaran produk offline. Saya telah menghitung sampai rinci bagaimana sebuah perusahaan besar dapat menjual harga “jahe wangi” seharga Rp 3.100,- (per 5 sachet) di tingkat supermarket padahal angka tersebut baru merupakan biaya modalnya saja buat pemula (pemula yang mendapatkan bahan produksi dari orang kedua, bukan dari petani langsung).
Nah…, hubungannya dengan network adalah terkait dengan keuntungan (laba) yang akan diperoleh. Dari contoh rencana launching produk saya di atas, meskipun keuntungan hanya 50% dari keuntungan produk eksisting, akan tetap mendatangkan laba besar apabila network sudah dibangun dengan kuat. Bayangkan kalau keuntungan yang kecil sementara networknya (jangkauan pasarnya) juga kecil, tentu tidak sebanding dengan usaha penciptaan produk yang cukup rumit dan bikin capek.
Produk Pendamping
Inilah “makna” produk pendamping yang sering saya sampaikan kepada member Javasugar.com selama ini. Produk bermargin kecil boleh saja launching untuk mendampingi produk utama karena margin kecil tersebut akan menjadi besar nilainya mengingat subsidi transportasi, promosi, dll diperoleh dari “aktivitas” produk utama.
Produk pendamping bahkan sering memperkuat brand image produk utama dan brand image pemilik produk. Ini jauh lebih penting dari sekedar laba dikantong. Tak heran perusahaan besar sering rela mempertahankan eksistensi produk pendampingnya padahal merugikan perusahaan secara materi. Ini adalah sebuah strategi!
Hati-hati kasih comment ya, karena leading & endingnya kontroversial, ketahuan yang baca beneran dengan yang baca sepintas saja.
May 5th, 2009 at 3:16 pm
Analisa yg menarik.
Btw kalo ditarik ke bisnis online, apa sudah diriset juga mas.
Soalnya di bisnis online kayanya yg passive income itu yg punya produk sendiri dengan sistem viral marketing.
Salam sukses
[Reply]
hade Reply:
May 6th, 2009 at 7:55 am
@Blog Motivasi Arief,
Beda dengan bisnis online Mas… Apalagi kalau yang dimaksud juga termasuk bisnis ebook yang saat ini marak dijual di dunia online. Produk dimaksud dapat “diproduksi” dalam waktu singkat, berbeda dengan produk offline yang juga harus dipersiapkan jalur distribusinya.
Makasih atas komentarnya Mas…
[Reply]
May 5th, 2009 at 3:27 pm
Wah, istilahnya jadi “makelar” memang sangat menguntungkan. (Saya membayangkan Singapura). Menurut saya kata kuncinya memang network (jaringan kerja)
[Reply]
hade Reply:
May 6th, 2009 at 7:59 am
@Bang Dje,
Tepat Mas…, kudu membangun jalur distribusi. Kita pantas belajar banyak dari jalur distribusinya Group Kompas yang sangat mudah menjangkau kota-kota terpencil dengan konsisten.
[Reply]
May 5th, 2009 at 5:21 pm
Menarik sekali mas analisisnya..
untuk urusan ini saya akui harus banyak belajar lagi dari anda.. tajam banget mas…
Salam Hangat
[Reply]
hade Reply:
May 6th, 2009 at 8:00 am
@Fadly Muin,
Terima kasih Mas…, sekedar sharing bahkan lebih tepat disebut curhat kok Mas… Sudah sebulan lebih mau launching produk baru kok masih perlu dukungan moril…, mangkanya saya posting aja di sini.
Salam sukses Mas..
[Reply]
May 5th, 2009 at 8:57 pm
Kayaknya sudah hampir putus asa ya di bisnis online? boleh juga bisnis offlinenya, Tetap semangat… Dedi corbuzier dan Susilo Bambang Yudhoyono juga tidak melakukan bisnis online kok…
[Reply]
hade Reply:
May 6th, 2009 at 8:02 am
@hafiid,
Hahaha…., putus asa? Ndak ada dlm kamus…(Insya Allah).
Justru ini adalah lahan baru dunia offline yang dapat dipantau di dunia online. Bisnis offline yang dibawa ke online… Silahkan baca ulang ya….
[Reply]
May 5th, 2009 at 9:56 pm
Memang jadi “makelar” mungkin menguntungkan karena ibaratnya hanya modal “abab” (bhs jawa) cuma modal omong2. Tetapi kalo kita ingin punya produk sendiri dan dikenal luas tentu ada rasa bangga. Persamaan keduanya saya pikir sama, yaitu : membangun jaringan seluas-luasnya. Salam
[Reply]
hade Reply:
May 6th, 2009 at 8:08 am
@ardi,
Persis Mas…, justru dalam artikel di atas saya memotivasi pemilik bisnis offline bahwa laba yang kecilpun, sebuah produk tetap layak di launching. Hal ini terkait dengan personal branding. Tunggu artikel seri 2-nya yah…
Sukses buat Mas Ardi.
[Reply]
May 6th, 2009 at 2:15 am
Kalau affiliate marketer, boleh dibilang ujung tombaknya dari yang memiliki produk utama (bener ga mas?),
Kalau ujung tombak atau prajuritnya dikasih senjata terus ga paham menggunakan senjatanya?
Barangkali diposisi seperti ini masih bingung kalau diajakin ngobrol mengenai produk. Coba cari network dulu kayanya lebih pas, seperti yang dikatakan mas Arif.
[Reply]
hade Reply:
May 6th, 2009 at 8:11 am
@masadhiguna,
Banyak saran untuk mengikuti affilate program bagi pemula, ini adalah saran yang bagus. Mereka belajar dengan biaya yang rendah. Selanjutnya, pemilikan produk sendiri adalah hal yang utama, berapapun laba yang akan diperoleh karena hal itu terkait personal branding.
Berbeda dengan yang saya lakukan, membangun jalur distribusi dahulu baru saya bawa ke online. Ternyata ini sangat menguntungkan.
[Reply]
May 6th, 2009 at 11:25 am
Hello,
terima kasih atas analisa anda. memang hitung-hitungan itu penting banget bagi seorang pedagang.
saya dulu ada rencana untuk jual produk orang lain online. setelah ada kesepakatan dianya mundur.
Jadi timbul keinginan bikin produk sendiri sehingga tidak tergantung pada orang lain.tapi sampai saat ini masih dalam proses membuat produk sendiri untuk bisa diperjualbelikan secara online saja.
bravo.
[Reply]
hade Reply:
May 6th, 2009 at 12:20 pm
@Haris,
Terima kasih mas…, rasanya untuk profesional justru lebih mementingkan produk pendamping di atas…, karena lebih mengutamakan personal branding.
Artikel ini memang ada kontroversi antara judul dan endingnya…, kalau yang baca sepotong-ppotong aja basti akan salah faham. Dan anda sebagai wartawan sudah dapat mengambil seluruh isi artikel ini.
Dulu pas ikut training wartawan pernah belajar bagaimana cara membaca artikel dengan baik sehingga tidak perlu membaca seluruh isi tapi dapat mengetahui isinya. Hal sangat bermanfaat ketika kudu baca artikel dengan cepat.
Terima kasih atas kunjungannya Mas…
[Reply]
May 6th, 2009 at 4:26 pm
wah keren analisanya.. mantap
[Reply]
hade Reply:
May 6th, 2009 at 5:12 pm
@jadul,
Makasih bos…, semoga bermanfaat.
[Reply]
May 6th, 2009 at 4:45 pm
Saya setuju tuh, memang dalam bisnis offline atau online yg paling berperan sebenarnya adalah networking.
Punya produk kecil yg kurang laku, tinggal mendompleng saja kan, selama si produk besar ini punya networking yg kuat.
[Reply]
hade Reply:
May 6th, 2009 at 4:58 pm
@zee,
Tepat Mbak…, apalagi kalau produk pendamping (yang ndompleng) dapat mengangkat personal branding (atau corporate branding kalau di tingkat perusahaan, akan saya posting dalam waktu dekat). Dalam kasus spt itu laba tidak terlalu menjadi pertimbangan.
[Reply]
May 6th, 2009 at 4:52 pm
Sudah saya baca dengan seksama nih artikel, tapi memang tajam analisanya. Mas Hade memang pantas jadi juragan, nulis apa aja pasti berbobot.
Salam sukses Mas.
[Reply]
hade Reply:
May 6th, 2009 at 4:59 pm
@Sumartono,
Hii..hii… sekedar warning aja kok Mas…, biar commentnya OK hehe
Tulisan saya masih ada yang ngaku bingung bacanya kok…, masih kudu banyak belajar membuat tulisan yang lebih populer (dapat difahami oleh semua kalangan).
Terima kasih kunjungannya Mas.
[Reply]
Jeddah09 Reply:
May 7th, 2009 at 5:03 pm
@hade, OK. Yang terpenting adalah tingkat “manfaat” produk yang kita jual, lantas kita tahu segmen pasar yang akan kita bidik. BRANDING merupakan langkah kedua agar produk kita mudah diingat khalayak. Membangun sebuah network menjadi sangat penting karena berdampak pada PROFIT yang akan diperoleh pada periode tertentu. Semakin luas Network marketing, berarti makin besar keuntungannya. Survey membuktikan bahwa perusahaan apapun (besar/kecil)tidak menjual dengan harga tinggi, melainkan memperluas jangkauan pasar (misal Franchise / buka cabang). jadi saya setuju dengan anda mas. Salam Sukses. . .maturnuwon.
[Reply]
hade Reply:
May 7th, 2009 at 5:08 pm
@Jeddah09,
Tepat Mas…,terima kasih tambahannya nih. Jadi lebih mudah memahaminya..hehe..
[Reply]
May 6th, 2009 at 10:41 pm
Waaaa.. thx mas infonya.. kebetulan lagi buat produk sendiri kecil2an..
[Reply]
hade Reply:
May 7th, 2009 at 4:37 pm
@Danta,
Kecil atau besar gak penting Mas…, yang penting dapat “ngangkat” personal branding kita. Sip…, selamat berjuang ya…
[Reply]
May 7th, 2009 at 8:12 am
menurut kesipan masing-masing mas hade dan yang paling tahu tentu kita sendiri kapan waktu yang tepat. Klo saya sendiri dimulai dari jualan produk orang dan setelah ilmunya cukup baru bikin prodik sendiri. Untuk network sama aja mas, di online dan offline, di online biasa disebut link atau backlink dan itu sangat penting untuk meningkatkan permofma web.
[Reply]
hade Reply:
May 7th, 2009 at 4:38 pm
@zams,
Idealnya spt itu mas…, “ngelmu” dulu baru “ngamal”.
Kalau networkingnya, mau online maupun ofline ya gak ada beda…, setuju saya mas…
[Reply]
May 7th, 2009 at 8:41 am
Ya betul mas, salah satu produk dibuat solah-olah memang murah dan memang murah tetapi sebenarnya target penjualan perusahaan bukan produk tersebut tetapi produk yg kita lihat sebagai ampingan padahal itu yg sebenarnya diandalkan dalam mencari laba
dengan adanya produk murah di simpan didepan akan dapat bersaing masalah harga, dengan produk2 lainnya.
Sya juga dlm hal2 tertentu menerapkan itu, salah satu jasa yg sya tawarkan murah yg mana tdk terlalu konsumen inginkan tetapi sebenarnya dibelakang itu ada satu hal yg benar2 merupakan kebutuhan konsumen yg harganya memang menghasilkan untung yg cukup lumayan.
strategi Offline dan online sepertinya dlm hal2 tertentu banyak persamaan.
[Reply]
hade Reply:
May 7th, 2009 at 4:41 pm
@Irwan M Santika,
Persis mas Irwan…, anda sudah menerapkan bahasan artikel saya di atas dan artikel berikutnya yang juga telah saya posting. Luar biasa.
Ihwal offline & online nanti saya bahas tersendiri aja ya…, memang banyak persamaan bahkan tidak berbeda. Tetapi sejatinya adalah sangat berbeda. Tunggu artikel berikutnya.
[Reply]
May 7th, 2009 at 9:11 am
Kalo saya amati, banyak juga perusahaan besar yang memilih memurahkan produk utamanya dibanding produk pendamping.
Sebagai contoh HP atau Canon sebagai salah satu pembuat printer terbaik didunia.
Harga printer dikurangi harga tinta/tonernya malah lebih murah(hampir gratis..tetapi kok tidak boleh minta printernya saja ya?..hehehe) Strategi mereka, printer dibeli hanya sekali, tetapi tinta/toner dibeli berkali-kali jadinya mereka ambil profit besar dari sana untuk menutupi/mensubsidi biaya riset,iklan dll dari produk utamanya.
Analisa yang menarik mas hade, dan semoga sukses dgn produk barunya ya?
Salam
[Reply]
hade Reply:
May 7th, 2009 at 4:42 pm
@jpurnomo,
Contohnya sangat tepat mas… dan hal itu saya bahas dalam artikel berikutnya, sudah saya posting beberapa detik yang lalu.
[Reply]
May 7th, 2009 at 11:44 am
iya ini lagi nulis tagsnya, casual cutie lg pesen majalah tadi makanya blm upload. bentar casual cutie mampir lagi baca postingan mas hade…
[Reply]
hade Reply:
May 7th, 2009 at 4:43 pm
@casual cutie,
Hii..hii…, saya sudah baca tuh postingan terkahir… nyem..nyem…
[Reply]
May 7th, 2009 at 12:25 pm
wah, bener juga Mas Hade, kita harus punya suatu jaringan untuk memasarkan produk kita (khususnya bisnis offline. Semakin besar jaringan kita, semakin besar juga peluang kita untuk menguasai pasar.
[Reply]
hade Reply:
May 7th, 2009 at 4:44 pm
@casual cutie,
Dan kayaknya casual cutie sudah menjalankan dengan baik melalui web (online). Monetizingnya lancar dong neng…
[Reply]
May 7th, 2009 at 3:00 pm
Selama ini saya lebih senang menjual barang atau produk orang lain mas, untungnya lumayan terus ga mikir yang laen2 dibandingkan dengan buat produk sendiri. Emang sih ada untung ruginya.
OOT, Btw maren pernah request buat javaformula keknya, boleh dikasih info lebih lengkapnya ke email mas? sapa tau berminat dan dapet diskon.
[Reply]
hade Reply:
May 7th, 2009 at 4:45 pm
@Paman Gober,
Kalau sekelas Paman kayaknya jual apa aja laku tuh…
Javaformula…., sudah saya email bos…
[Reply]
May 7th, 2009 at 4:25 pm
iya betul mas, kalau blog kita kelola dengan baik dan teratur hasilnya akan sangat luar biasa dan menjanjikan, mungkin jauh melebihi penghasilan bisnis offline. ayo semangat!!!!
[Reply]
hade Reply:
May 7th, 2009 at 4:47 pm
@casual cutie,
Hahaha…, untuk kasus ini (online) saya kalah jauh…
Saya sedang pelajari strategi casual cutie…, dan baru ketahuan satu rahasianya…. Masih saya pelajari terus…, bagi-bagi ilmu dong neng….
[Reply]
May 7th, 2009 at 5:45 pm
woee..casual cutie kan masih newbie…(malu-malu….)
[Reply]
May 18th, 2009 at 8:55 pm
pingin ngikut i jejak…
seringkali sulit memilih produk apa yang semestinya kita (bisa) kemas dan mempunyai nilai jual. Ups salah, kendala tersbesarnya tentang cara menjualnya ding..
[Reply]
May 20th, 2009 at 6:13 pm
sungguh informatif, thkx for sharing, kalau sempat mampir ketempat aku ya…
[Reply]