BlackBerry, googlephone atau smartphone konvensional?
Pasar smartphone konvensional akan segera meredup jika tidak segera melakukan revolusi produknya, terutama justru yang dimiliki oleh merek-merek terkenal yang selama ini telah merajai pasar. Ia akan segera dilindas oleh perubahan produk murah China yang belakangan tidak lagi “murahan”. Dengan inovasi biaya murah untuk produk teknologi tinggi, produk masal dan produk-produk “khusus”, China akan segera membalikkan peta pemasaran smartphone konvensional selama ini.
Gemini Masih Mendominasi
BlackBerry seri Gemini masih menjadi primadona dibanding smartphone lain setidaknya dalam pameran di JHCC minggu kemarin yang terlihat dalam antrian booth milik XL. Omset 1000 unit per hari dapat dicapai oleh XL dengan sistem penjualan bundling dengan operator di maksud.
Sementara operator lain seperti Indosat telah bersiap-siap menyediakan unit smartphone blackberry seri Gemini yang seluruh bodinya berwarna putih, yaitu White Gemini. Ini adalah strategy luar biasa yang dilakukan baik oleh pihak RIM maupun operator untuk mengeruk omset smartphone level harga Rp 3 juta-an. Dan menurut Indosat, peminat BlackBerry Gemini putih di Indonesia cukup banyak. Dan bagi peminat White Gemini, nampaknya dapat segera dapat menggenggam smartphone tersebut melalui bundling Indosat.
Dari spesifikasi produk, yang membedakan antara Gemini putih dan hitam hanya soal warna saja. Begitu pun soal harga, tak akan berbeda dengan harga Gemini “black” yang sampai saat ini masih sangat banyak penggemarnya.
Apabila di level harga Rp 3 juta-an saja RIM mampu menggerogoti pasar smartphone konvensional, apa yang akan terjadi apabila RIM mampu menyediakan produknya dengan harga lebih murah lagi?
Memenangi Pasar
Rasanya sulit bagi produsen handphone konvensional seperti Nokia, Sonny Erricson, Motorola, dll untuk mengimbangi strategi pemasaran yang dilakukan oleh RIM. Pada segmen lebih bawah lagi, produsen smartphone konvensional di atas (Non blackberry) harus berhadapan dengan produk China yang dengan harga Rp 600 ribu saja sudah bisa menyediaan smartphone dengan fitur lengkap bahkan disertai keypad Qwerty dan menu operasi trackball. Sedangkan di segmen harga di atas, yaitu di rentang harga atas Rp 3 juta-an RIM telah Berjaya dengan Javellin dan Bold-nya. Butuh strategi terintegrasi dengan paket layanan untuk dapat memenagni persaingan ini bagi pihak produsen smartphone konvensioanl. Tidak bisa tidak, produsen smartphone konvensional harus merevolusi prouknya untuk memenangi pasar.
Paket layanan
Kerjasama yang dilakukan oleh Nokia dengan perusahaan China dan memasarkan produk mirip blackberry di Indonesia hanya akan mampu mengambil pasar smartphone level bawah yang sebenarnya justru menggerogoti pasar handphone Nokia sendiri. Hal ini tidak bisa diterapkan dalam jangka panjang karena tanpa revolusi produk, jelas Nokia akan kehilangan pasar baik di segmen low end maupun height end.
Menjual paket layanan seperti yang dilakukan oleh RIM diyakini akan dapat mengimbangi pemasaran smartphone blackberry. Hal ini nampaknya akan dapat dilakukan oleh Google melalui google phone nya. Kenapa? Karena dialah “pemilik” network di dunia maya. Kalau hal ini diintegrasikan dengan produk google phone yang ia miliki, rasanya sulit bagi produsen smartphone lain untuk memenangi pasar, bahkan oleh RIM sekalipun!
Related Posts:
*copy-paste kode di atas ke dalam form posting di blog Anda



Trackbacks & Pingbacks
[...] wikipedia, Crackberry berasal dari kata crack yang berarti kokain dan kata Blackbery. Kemudahan yang dihadirkan dalam [...]
Comments
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>