Ayo Berhemat 2009!
Beberapa waktu yang lalu Si bos cerita bahwa pada rapat direksi, dirut menanyakan apakah ada direksi yang menggunakan sepatu merk luar negeri. Secara acak direksi di cek sepatunya. Sebelumnya ketika ada pembagian bonus kantor, dirut juga selalu wanti-wanti untuk berhemat, menabung dan jangan konsumtif.
Di TV saya lihat wapres menanyakan hal serupa, masih seputar sepatu. Saya kurang tahu apakah dirut saya pernah ditanya hal serupa ketika rapat dengan pemerintah sehingga menerapkan hal serupa di kantor.
Di Portal NLP saya pernah pesen ke Mas Krishnamurti untuk membuat kampanye gunakan produk dalam negeri misalnya dengan pemasangan banner di blog tsb. Namun beliau sudah menerapkannya dengan cara yang lain yang langsung berhubungan dengan setiap orang dalam binaan beliau.
Sekarang saya mengajak semua pembaca disini untuk melakukan penghematan dan hasil penghematan dapat digunakan untuk bersedeakah atau untuk menabung. Selain itu jangan lupa untuk menggunakan produk dalam negeri. Saya sudah siapkan banner kecil dan sederhana seperti di atas yang dapat dipasang di masing-masing blog. Kalau berkenan, monggo silahkan dipasang di blog anda. Sebuah kegiatan kecil kalau dilaksanakan oleh semua blogger semoga dapat membantu mengatasi keadaan yang sedang sulit ini.
Di harian Kompas beberapa waktu yang lalu saya baca berita bahwa tusuk gigi produk China ada yang beracun. Ini adalah berita yang perlu mendapat perhatian karena produk tersebut berhubungan langsung dengan muluta manusia yang dapat membahayakan kesehatan. Tidak ada salahnya keluar uang lebih mahal sedikit beberapa ratus rupiah namun aman dan dapat membantu pengembangan usaha dalam negeri (perbedaan tidak sampai seribu dengan produk dalam negeri).
Berikutnya ada produk ban asal negara tersebut yang ternyata mudah pecah ketika mobil dikendarai pada kecepatan tertentu. Sekali lagi pakailan produk dalam negeri yang lebih aman meski lebih mahal sedikit.
Berikutnya yang paling menghebohkan beberapa waktu yang lalu adalah produk susu yang mengandung melamin. Kasus ini cukup merepotkan baik produsen yang terkait dengan produk susu (biscuit dll) juga konsumen.
Beberapa “pelajaran” di atas saya rasa cukup buat kita untuk tetap menggunakan produk dalam negeri meski ada selisih harga. SIsihkan penghematan keuangan untuk digunakan membeli produk dalam negeri untuk membantu kelangsungan industry dalam negeri.
Mungkin anda belum atau tidak terasa atas pengaruh krisis global saat ini, namun cobalah untuk berhemat dan bergaya hidup lebih bersahaja untuk sekedar merasakan mereka yang terkena krisis. Dengan demikian empati kita akan muncul dari satu tempat ke tempat lain secara Nasional.
Hal kecil seperti membagikan pakaian bekas ternyata membuat mereka yang menerima cukup senang dan menghibur. Hubungan kita dengan mereka juga menjadi lebih baik dan akrab. Hal ini kalau dapat dilakukan secara rutin, pasti akan terjalin hubungan yang harmonis secara nasional.
Tadi pagi, dibantu istri saya bongkar isi lemari dan memilih-milih pakaian yang jarang dipakai dan saya kumpulkan ternyata cukup menumpuk. Sayang sekali kalau pakaian yang masih bagus ini cuma disimpan di lemari sampai lusuh, rusak kemudian baru diberikan kepada orang lain. Lebih baik kalau memang tidak akan dipakai (meskipun masih bagus, dan orang lain akan lebih senang kalau menerima pemberian barang bagus daripada barang/pakaian yang sudah mulai lusuh) segera kumpulkan dan berikan kepada mereka yang membutuhkan.
Mari kita berhemat untuk sekedar menumbuhkan empati, atau untuk bersedekah atau untuk menabung. Terpenting rasakan apa yang anda dapatkan ketika melakukan hal tersebut, apakah rasa nyaman/enak/ikhlas atau sesuatu rasa yang lain. Ketika rasa “enak” yang anda peroleh, bukankah patut untuk diualng-ulang kembali?

Related Posts:


Betul mas.Dulu kita sering mendengar pepatah “Hemat Pangkal Kaya”, tapi memang sekarang ini tantangan zaman semakin berat dengan kultur hedonistik yang semakin kental.Jadi kita galakkan GBN Gerakan Berhemat Nasional.Salam sukses.take itor leave it
[Reply]
Nice article…terima kasih sudah mengingatkan untuk berhemat dan menggunakan produk dalam negeri mas…dan memang ada baiknya kita sisihkan harta kita..walau sedikit mungkin sangat bermanfaat untuk orang yang membutuhkan..Tentunya dengan hati yang ikhlas…
Salam…
AGunawaniKA.com
[Reply]
@Rully
Benar Mas Rully, pepatah itu yang membuat banyak orang sekarang mengejar kata terakhirnya saja, yaitu ‘kaya’. Orang kaya memang tidak salah, tidak dosa, tetapi orang kaya juga dapat “berhemat” bahkan sampai “puasa kekayaan” (saya ring menyebutnya “puasa uang” sehingga dapat menimbulkan rasa empati.
Orang yang melakukan puasa bukan berarti tidak mempunyai makanan untuk di makan, demikian juga dengan puasa uang bukan berarti tidak memiliki uang untuk dibelanjakan. Saya berharap dengan adanya pengendalian terhadap penggunaan uang, maka akan timbul empati, kemudian timbul keinginan bersedekah.
“Ocehan” ini berdasarkan yang pernah saya jalani aja sih…., mungkin orang lain akan berbeda hsailnya ketika menjalani hal tersebut.
Jadi, pepatah baru saya : hemat pangkal empati.
[Reply]
@Agung
Benar Mas Agung, saya sudah coba seperti eksperimen kecil-kecilan. Memberikan uang atau sesuatu barang yang nilainya tidak seberapa menurut kita, ternyata direspon sangat luar biasa dan tidak terduga oleh saya.
Misalnya kita ngasih buat satpam komplek, tukang sampah, atau tetangga kita misalnya. Sesuatu yang nilainya tidak seberapa tsb ketika dikeluarkan dengan ihklas akan kita dapatkan sesuatu yang tidak terduga.
Benar kata Mas Agung, kuncinya adalah ikhlas. Ketika rasa ikhlas kita peroleh sebagai sesuatu yang rasanya “enak”…, saya yakin akan ketagihan. Ketika ketagihan, maka pengulangan akan kita lakukan. Mungkin suatu ketika lupa, maka cobalah untuk “berbuat” lagi kepada sesama di lingkungan kita.
Salam ikhlas!
[Reply]