Sekolah favorit : supaya pintar atau supaya kaya?
Tulisan saya sebelumnya yang ini adalah salah satu bukti bahwa sekolah formal bukanlah segalanya apabila berorientasi pada uang atau kekayaan. Beberapa minggu ini banyak orang tua sedang mencarikan sekolah buat anaknya untuk mendapatkan pendidikan terbaik sebagai “bekal kehidupannya” dimasa mendatang.
Edisi week end kali ini saya ingin mengajak anda sedikit beropini mengenai fenomena heboh mencari sekolah ini. Pertanyaannya adalah bekal seperti apa sih sebenarnya yang dikehendaki oleh orang tua kepada anaknya sehingga mereka berebut sekolah favorit?
1. Kepandaian untuk mendapatkan pekerjaan.
2. Kepandaian untuk merintis bisnis.
Pilihan hanya boleh satu saja sebagai indikasi kecendurangan tujuan anak-anak sekolah, meskipun pada kenyataannya anda sebagai orang tua menghendaki keduanya dapat diraih sekaligus.
O-ya, saya hanya memberikan dua pilihan seperti di atas karena pada dasarnya sumber keuangan pencari nafkah untuk menghidupi keluarganya hanya ada dua, yaitu “Gaji” sebagai karyawan dan atau “Penghasilan” dari bisnisnya.
Meskipun sudah buru-buru mau liburan week end, silahkan beopini mengenai pendaftaran sekolah saat ini.
Indeks prestasi (IP) tinggi bukan jaminan kekayaan
Saya masih mau mbahas mengenai kekayaan. Topik matre seperti ini ternyata banyak peminatnya, sehingga minggu kemarin saya harus nambah bandwith blog ini karena postingan artikel matre sebelumnya yang menarik beberapa pembaca di lintas berita.
1 Milyar untuk mendapatkan 500juta
Ini adalah fakta mengenai kekayaan yang saya peroleh minggu kemarin ketika menjadi observer kegiatan lelang di sebuah hotel di Jakarta. Satu asset tanah senilai Rp 300 jutaan menjadi rebutan tiga orang peserta lelang karena lokasi yang strategis dan konon adalah “tanah raja” yang membawa berkah.
Beberapa tahun yang lalu pendatang dari jawa memulai bisnisnya dengan berjualan bakso dorong di Lombok. Singkat cerita bisnis bakso tersebut terus berkembang sehingga omsetnya sampai Milyaran (tentu sudah bukan bakso dorong lagi). Tempat awal si Bapak berjualan ini berdekatan dengan “tanah raja” yang membawa berkah seperti saya ceritakan di atas. Sehingga ketika asset tersebut dipasang papan bertuliskan “Dijual melalui lelang” menantu si Bapak disuruh terbang ke Jakarta dengan dibekali uang 1 Milyar.
Padahal harga normal tanah tersebut adalah Rp 300 jutaan (gak masuk akal? Ya, mungkin buat orang lain tidak masuk akal tetapi buat yang telah kecipratan berkahnya raja bekal 1 milyar diatas menjadi sangat masuk akal).
Tukang Bakso vs anggota dewan
Sebelum lelang dimulai, calon peserta A sadar diri kalau harus berhadapan dengan tukang bakso diatas, sehingga ia mendekati anggota dewan yang beminat atas “tanah raja” ini. A membuat kesepakatan dengan mantunya tukang bakso dan deal, tetapi anggota dewan tidak bersedia (gengsi kali) dan tetap ngotot atas tanah tersebut. Begitu lelang dimulai suasana langsung meriah, ramai bahkan proses lelang sampai panjang. Tidak heran kalau harga yang di mulai dari Rp 300 jutaan berakhir sampai hampir Rp 500 jutaan.
Proses lelang terhenti karena anggota dewan tidak mampu lagi mengimbangi harga yang “diseret” oleh mantunya tukang bakso. “Terus Pak.., naikin terus harganya Pak…” mantunya tukang bakso berteriak. Anggota dewan menurunkan tangannya sebagai tanda kalah lelang. Kemudian mantu tukang baksu ini menghampiri anggota dewan dan menyalaminya.
Orang pintar (teori)
Selesai satu tahap lelang, saya putuskan pulang karena observer yang lain pulang. Dalam perjalanan kita, satu mobil ini “ngiri” terhadap tukang bakso yang sangat sukses itu. Salah satu diantara kami berkata “Kita tuh pandai teori, pandai kasih kredit, pandai restrukturisasi kredit, pandai cari nasabah, sekolah tinggi, pakaian necis, pakai dasi terus, rapi, tetapi kita jadi budaknya tukang bakso!”
Saya berfikir sejenak karena tengok kanan-kiri semua diam. Seolah-olah semua mengatakan : ternyata kekayaan itu tidak selalu berbanding lurus dengan kepandaian akademik!


...............................

